Hujan tak henti-hentinya mengguyur Kota Jogja. Baik Jogja utara maupun selatan, hujan terjadi merata. Memang prediksi Stasiun Klimatologi BMKG Jogja di Mlati, Sleman, memperkirakan hujan intensitas deras pada sore turun menjadi intensitas sedang hingga tengah malam. Alhasil pelaksanaan giat ke-256 sedikit tertunda.

Kopyordinator Bekti Maulana rupanya sudah siap sedia sejak pukul 19:00 WIB di Pos Polisi Simpang Sentul. "Aku nganti turu cah," Bekti tertawa sembari mengucek-ucek mata. Ia sempat tertidur setelah lelah menempuh perjalanan sejauh 8,5 kilometer. Berhubung hujan deras mengguyur, Ia yang biasanya mengendarai sepeda tinggi sewaktu giat, kini memilih mengendarai sepeda motor. Memang hawa malam ini terlampau dingin. Meski giat adalah kegiatan rutin, kesehatan tetap nomor satu.

Kopyordinator menyusuri trotoar sisi selatan Jln. Sultan Agung

Lampu APILL biasa galat namun tak kunjung diperbaiki

Kesehatan relawan tetap diutamakan dalam Garuk Sampah

Pukul 21:00 WIB giat dimulai dengan hanya Kopyordinator dan satu relawan bergerak. Di Simpang Sentul, tepatnya pedestrian barat pemberhentian Jln. Tamansiswa biasa digunakan para pemain keroncong untuk mengamen. Mereka menggunakan spanduk untuk berteduh. Sebelum spanduk tersebut diamankan kawan Garuk Sampah, salah seorang pemain keroncong muncul mengamankan spanduk mereka. Dari arah selatan, lampu APILL di Jln. Tamansiswa alami galat, lampu merah dan hijau menyala bersamaan bahkan sewaktu harusnya lampu merah saja yang menyala. Menurut Bekti, kondisi ini sudah berlangsung menahun dan biasa, namun tidak kunjung diperbaiki oleh Area Traffic Control System (ATCS) dari Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta. Begitu hujan mereka, lampu APILL akan kembali normal.

Reaksi Kopyordinator sewaktu menemukan makanan utuh di balik papan nama pasar

Tidak jarang sampah ditemukan di pot tanaman

Tak lama berselang, dua kawan Garuk Sampah hadir. Kini berempat kami menyusuri sisi selatan Jln. Sultan Agung hingga ke Pasar Sentul. Trotoar di area ini relatif bersih, namun dalam setiap giat para relawan dituntut untuk bisa jeli. Tepat di bawah papan nama Pasar Sentul dengan slogan "Pasare resik, atine becik, rejekine apik, sing tuku ora kecelik", Kopyordinator menemukan makanan masih utuh dalam plastik. Tentu tidak hanya sampah plastik yang disumbang, sampah makanan pun jadi masalah tersendiri. Di Indonesia, sebelum sampah plastik ada sampah makanan yang mendominasi hingga lebih dari 50%. Padahal sampah makanan yang notabene organik dapat menyumbang gas metana yang 10 kali lebih merusak daripada karbon dioksida dari polusi industri dan kendaraan. Selain tersembunyi di balik papan nama, sampah-sampah di area ini juga banyak yang dibuang begitu saja di dalam pot-pot tanaman penghias pedestrian.

Hujan melunakkan poster sehingga lebih mudah dilepas


Pasare resik, atine becik, rejekine apik, sing tuku ora kecelik.

Sampai di Pasar Sentul, giat berlanjut ke arah timur melewati trotoar sisi utara Jln. Sultan Agung. Banyaknya pohon besar perindang jalan justru dijadikan tempat menyembunyikan sampah. Beberapa sampah dalam kresek besar disembunyikan diantara akar-akar pohon, bahkan ada yang digantungkan di ranting, juga diselipkan diantara dahan-dahannya. Tidak banyak sampah iklan yang terpasang, biasanya dinding seng bangunan kosong di Jln. Letkol Subandri dijadikan medium sampah iklan untuk produk-produk sigaret. Berhubung hujan masih mengguyur, pembersihan jadi jauh lebih mudah karena perekat dan poster biasanya akan melunak.

Banyak sampah sengaja diselipkan diantara akar pohon

Giat baru berlangsung dua puluh menit dan dua kawan lagi tiba di Simpang Sentul. Sembari menghangatkan diri, kami mengobrol panjang untuk menjalin persaudaraan dari giat minggu lalu. Dua puluh menit berselang, kami berenam membagi diri supaya pembersihan ke arah Simpang SMTI Batikan lebih efektif: tiga di sisi utara, tiga lainnya di selatan. Di sisi utara, relawan menyisir sampah-sampah yang berserakan di trotoar. Sisi utara Jln. Sultan Agung ini bersih dari tempelan iklan karena berupa deretan toko. Di sisi selatan, relawan membersihkan control box kendali lampu APILL yang rutin kena vandal, juga mengecek saluran drainase jalan yang biasanya tertutup sampah. "Delokno kae, tutupan drainase melu diaspal," tunjuk Bekti ke arah pintu drainase yang ikut teraspal jalan. Alhasil lubang tidak bisa dibuka. Ada dua pintu drainase, dengan sekuat tenaga Bekti angkat untuk mengambil sampah yang terbawa air ke dalam saluran.

Kawan Garuk Sampah membersihkan box control APILL

Bekti mengangkat tutupan drainase untuk mengambil sampah yang terbawa air

Giat selesai satu jam kemudian. Dikarenakan hujan gerimis masih mengguyur, para relawan memilih srawung dan minum teh di depan pos polisi sembari menyantap pizza yang dibawakan kawan Garuk Sampah sewaktu giat tadi.