Sejak publik digegerkan oleh wabah Corona Virus Disease 2019 alias Covid-19 pada awal Maret lalu, ramai-ramai masyarakat segera mempersenjatai diri mereka dengan berbagai strategi untuk bertahan hidup. Ada yang segera membeli hand sanitizer, masker medis sekali pakai, ada pula yang mulai menyetok makanan siap saji menyusul apabila terjadi kelangkaan pangan. Kondisi kekacauan (anomie) ini sangatlah wajar, apalagi 'musuh' yang dihadapi adalah partikel renik yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Alhasil, terjadilah kekacauan atas bingungnya tindakan yang perlu diambil masyarakat begitu mengalami wabah skala global ini. Apalagi dengan kondisi birokrasi pemerintahan Indonesia yang sama sekali tidak transparan soal data, dan gagap dalam mengambil kebijakan untuk penanganan wabah.

Masyarakat melindungi diri tak cukup hanya pada tingkatan individu dan keluarga. Bagi kelompok masyarakat yang masih guyub atau memiliki ikatan sosial yang cukup solid, mereka berinovasi dengan membuat posko di masing-masing lingkungan permukiman mereka. Biasanya posko didirikan di setiap lingkungan rukun tetangga (RT). Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri ikatan sosial antar masyarakat masih cukup guyub meski digempur modernisasi sana-sini, maka dua-tiga minggu pasca pengumuman kasus pertama dan aturan social distancing, masyarakat segera mengamankan wilayah jelajah mereka. Jalanan permukiman dan perkampungan yang dilengkapi dengan portal segera ditutup, arus pendatang baru dicegah, setiap pelintas harus dicek suhu tubuhnya menggunakan termometer tembak (yang sebenarnya kurang akurat), dan diwajibkan cuci tangan atau disemprotkan cairan hand sanitizer. Dari sekian banyak jalan, biasanya hanya akan disisakan satu portal terbuka, itu pun dengan pengawasan ketat 24 jam 7 hari secara bergilir oleh masyarakat setempat.

Sumber: Tagar.id

Sumber: Solopos.com

Sumber: YouTube / Travelling Indonesia

Sumber: KRJogja.com

Sumber: KabareMinggi.com


Pada awal wabah, masyarakat mendayagunakan teknologi guna membuat semprotan disinfektan otomatis yang akan menyemprot siapa saja yang melintasi gerbang posko. Hal ini sempat menimbulkan keheranan bagi WHO karena disinfektan selain karena bukan kegunaannya, ada banyak sekali kandungan dalam cairan disinfektan yang berbahaya bagi tubuh manusia. Alhasil inovasi ini hanya berlangsung selama satu mingguan saja. Tak hanya masyarakat awam, instansi pemerintahan termasuk kepolisian juga salah kaprah menyemprotkan disinfektan menggunakan kendaraan besar ke jalanan di penjuru kota.

Satu setengah bulan pasca wabah, banyak sekali aspek kehidupan masyarakat yang berubah. Beberapa perubahan mungkin akan berlangsung untuk sementara, tapi sisanya akan terjadi permanen. Salah satunya, mungkin kebiasaan menggunakan masker dan cuci tangan.

Garuk Sampah sebagai gerakan berbasis lingkungan yang khusus fokus pada #sampahiklan juga harus berinovasi karena wabah. Protokol kesehatan dibuat sehingga giat rutin dilaksanakan terbatas dengan maksimum peserta 10 relawan. Masing-masing relawan pun di lapangan harus mengenakan minimal masker kain. Apabila ada relawan yang tidak sehat, apalagi mengalami gejala Covid-19, maka segera diminta pulang;

Semasa wabah berlangsung, ada satu fenomena yang sedikit jarang terjadi di Kota Jogja. Jumlah pemasang sampah iklan turun drastis selama wabah berlangsung. Hal ini dikarenakan banyak acara, agenda, dan bisnis yang terganggu dan bahkan terpaksa batal atau tutup sementara akibat pandemi. Alhasil tidak banyak tempelan iklan atau ikatan spanduk baru di penjuru Kota Jogja. Begitu pula pada reklame jenis baliho, tidak banyak pengiklan memasang dan mempromosikan produk atau jasa mereka semasa pandemi. Maka tak heran apabila relawan Garuk Sampah sewaktu patroli berkeliling Kota Jogja (dengan protokol kesehatan), menemuni banyak baliho —entah berizin atau tidak— kosong, bersih.

Banyak baliho kosong, salah satunya di Simpang Kentungan.


Selain tidak adanya pengiklan baru, wabah yang juga menggerakkan masyarakat melakukan isolasi tingkat lingkungan RT juga berhasil mengurangi jumlah sampah iklan di Kota Jogja. Kok bisa? Karena warga membutuhkan medium untuk menuliskan peringatan untuk tidak masuk di lingkungan mereka dengan spanduk sebagai 'kanvas' mereka. Darimana masyarakat mendapatkan spanduk ini? Tentu dari spanduk yang dipasang serampangan di lingkungan mereka. Rata-rata dua spanduk bentang digunakan warga untuk menulis peringatan seperti 'Lock Down!' dan 'Jalan Ditutup!' pada satu portal. Apabila dalam satu lingkungan terdapat lima-enam portal jalan, maka akan ada lebih banyak spanduk yang dipakai untuk memalangi jalan. Inilah mengapa semasa wabah Kota Jogja cenderung lebih bersih dari sampah iklan. Bukan, bukan karena kinerja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang membaik, melainkan masyarakat yang secara 'sengaja' mencopot spanduk di lingkungan mereka untuk keperluan mereka juga.