Kurang lebih sudah tiga pekan berlalu giat rutin Garuk Sampah yang dilaksanakan setiap Rabu malam vakum. Ya, larangan untuk membuat kerumunan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, dan kebijakan Pemerintah Provinsi DIY yang ketat, serta protokol kesehatan membuat kegiatan pokok mingguan kami berhenti. Alhasil, selain Kopyordinator gabut, Masmin juga tidak punya lagi konten untuk dipublikasikan ke jaringan media sosial. 😂 Berhubung wabah Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 sedang mewabah dan masih banyak masyarakat khususnya Jogjakarta belum memahami betapa gentingnya untuk tetap #dirumahaja, alhasil konten Garuk Sampah untuk sementara membahas seluk-beluk dan cara menghadapi pandemi ini.



Namun pada Selasa (21/4), akun Humas DIY melansir poster informasi terkait aturan physical distancing (istilah pengganti social distancing yang dirasa kurang tepat) khusus DIY. Apabila di DKI Jakarta telah diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang melarang kerumunan lebih dari 5 orang, di DIY masih diizinkan hingga maksimal 10 orang. Kelonggaran ini tentu memberikan kesempatan bagi Garuk Sampah untuk tetap dapat meneruskan kegiatan baik di setiap Rabu malam. Tentu untuk dapat menggelar giat rutin, Garuk Sampah tetap berpedoman pada protokol kesehatan yakni dengan menjaga jarak fisik, selalu menggunakan masker dan alat pelindung diri (APD) standar dalam giat, juga mencuci tangan ketika selesai giat maupun sehabis menyentuh objek yang dirasa tidak bersih.


Poster yang dilansir berisi himbauan dan perintah untuk melaporkan kerumunan pada pihak yang berwenang

Setelah adanya kelonggaran ini, pada Rabu (22/4) pagi, dengan segera Kopyordinator mengumumkan adanya giat di dalam forum komunikasi antar relawan Garuk Sampah. Akan tetapi giat ke-263 tetap terbatas seperti pada dua giat sebelumnya. Karena batas maksimal adalah 10 orang, giat akan diikuti oleh Kopyordinator, Masmin, dan delapan relawan lain yang kemungkinan dapat membantu menyelesaikan pembersihan sasaran giat.

Giat ke-263 tidak dilaksanakan di persimpangan jalan seperti giat pada umumnya. Giat kali ini ditargetkan membersihkan tali-tali pengikat pada dua lampu penerangan jalan umum (PJU) yang berseberangan dan berada di depan gapura putih gerbang masuk Kota Jogjakarta. Ya, kedua tiang lampu ini sudah terikat spanduk bentang sejak lama sehingga tali-tali tambang berbagai macam warna mengikat hingga merusak fungsi dan estetika lampu. Meski sudah terikat bertahun-tahun, Satpol PP Kota Jogja sebagai pihak yang berwenang dan memiliki peralatan yang memadai sama sekali tidak pernah menyentuh apalagi membersihkan tiang ini. Apalagi di tubuh tiang terpasang stiker inventarisasi aset dengan label tahun 2018.

Kopyordinator Bekti Maulana merancang strategi untuk memanjat gapura

Tanpa pengaman, membersihkan tiang PJU yang sudah lima tahunan terikat tali tambang memang sangat berbahaya

Meski berada di sisi luar gapura, aset kedua tiang milik Pemerintah Kota Jogjakarta

Apakah Jogja masih Berhati Nyaman


Giat sengaja dilakukan lebih malam dari biasanya. Pukul 22:00, giat dimulai ketika kawasan Blunyah Gede baru saja diguyur hujan. Pelaksanaan giat lebih malam dilakukan supaya meminimalisir potensi kerumunan massa yang penasaran dengan aksi giat kali ini. Setibanya di lokasi, tanpa basa-basi Kopyordinator segera menyerahkan barang-barang kecil seperti ponsel ke Masmin, lalu memanjat gapura dengan memijaki papan LED Jogja Berhati Nyaman.

Di atas, Bekti Maulana memutus satu per satu tali pengikat menggunakan tang. Tali yang putus pun berjatuhan ke atap PKL yang memakan ruang pejalan. Di atas, Bekti harus berhati-hati karena kesemrawutan kabel jaringan di Jogja melintanginya. Potensi tersengat arus listrik sangat tinggi, apalagi baru saja hujan mengguyur wilayah ini.

Dari sembilan relawan yang hadir, hanya dua yang memiliki kapasitas baik dalam memanjat

Satu per satu tali yang dipotong berjatuhan

Hujan kembali mengguyur Blunyah Gede, pembersihan dilanjutkan pada giat berikutnya sembari menanti tindakan dari pihak yang (seharusnya) berwenang

Kopyordinator dan relawan veteran mengikat tali untuk kemudian dikoleksi sebagai barang bukti protes (umumnya begitu)

Perbandingan antara tali yang sudah dibersihkan (sekitar 10%) dengan pijakan kaki motor matik


Lima belas menit berselang, salah satu veteran relawan Garuk Sampah ikut membantu Kopyordinator dengan memanjat gapura yang sama. Berbagi tugas, relawan ini memotongi tali yang ada di sisi bawah dengan kaki yang berpijak pada struktur gapura. Tiang PJU di gapura Blunyah Gede ini tampaknya cukup rapuh karena setiap Kopyordinator menyenggol tubuh tiang, goncangan hebat bergetar hingga ujung atas. Beberapa pengendara jalan ada yang memelankan laju kendaraan mereka, ada pula yang justru ngebut di tengah malam.

Belum lama Kopyordinator berpijak di atas gapura, hujan deras mulai kembali mengguyur. Kali ini tampaknya hujan akan semakin deras. Akhirnya Bekti memutuskan untuk menyudahi giat ke-263 kali ini. Masmin pun segera mengunggah foto-foto giat dengan menandai akun @satpolppkotajogja dan @pemkotjogja supaya pihak yang berwenang dengan peralatan memadai segera merespon laporan dan membersihkan kedua tiang ini. Relawan dan Bekti mengikat semua tali yang telah dipotong guna disimpan sebagai barang bukti untuk protes di kemudian waktu.