Riset oleh Amorita R.

Lingkungan merupakan salah satu bagian yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, ini berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat di Dunia. Akan tetapi sampah-sampah yang berserakan disekitar jalanan, sudut-sudut kota, serta pinggiran jalan raya bukan lagi hal yang mengagetkan. Hal ini tentu menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan menyebabkan bau yang tidak sedap ketika kita (masyarakat) sedang berkendara maupun bagi pejalan kaki atau membuat ketidaknyamanan bagi warga setempat.

Inilah yang menjadi sebuah pertimbangan di mana isu lingkungan merupakan suatu isu yang penting untuk disebarluaskan kepada masyarakat. Di Yogyakarta permasalahan akan lingkungan terutama sampah pun masih menjadi masalah yang perlu untuk dicari dan dipikirkan solusinya agar permasalahan ini terselesaikan, sama seperti yang dipikirkan oleh sekelompok orang yang membawa isu lingkungan dan juga kearifan lokal yang menjadi tujuan mereka berkegiatan yaitu Jogjakarta Garuk Sampah (JGS).

Jogja Garuk Sampah berisi kelompok orang-orang yang mencintai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan melakukan kegiatan atau gerakan dengan sukarela membantu permasalahan lingkungan dengan mengambil sampah yang dapat merusak lingkungan di Yogyakarta sekaligus membangun kembali kearifan lokal seperti gotong-royong dan kerja bakti. Jogja Garuk Sampah merupakan gerakan yang lahir pada tahun 2015 dimana gerakan ini memiliki masa pasang surut, dan pada akhirnya tahun 2016 Jogja Garuk Sampah kembali bersatu untuk menjaga lingkungan Yogyakarta dan kearifan lokal tetap pada tempat yang wajar.

Seperti yang diberitakan oleh RadarJogja, "Misi sekumpulan anak muda yang bergabung dalam gerakan Jogja Garuk Sampah sebetulnya sederhana: orang-orang membuang sampah pada tempatnya" (Sarmudyahsari, 2017). Jogja Garuk Sampah mempunyai berbagai cara untuk bisa menginformasikan kegiatan mereka dan mengumpulkan para relawan untuk ikut berkegiatan bersama Jogja Garuk Sampah.

Berbicara mengenai menginformasikan atau mengkomunikasikan suatu isu, kegiatan, ataupun informasi, maka erat kaitannya dengan sebuah aktivitas komunikasi. Menurut Everett M Roger, komunikasi didefinisikan sebagai sebuah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud mengubah tingkah mereka (Mulyana, 2007: 69). Komunikasi menurut Effendi merupakan proses suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media (Soemirat, dkk, 2008:1.23).

Mengaitkan pembahasan mengenai definisi komunikasi dengan kampanye jelas tidak lepas kajiannya dari usaha penyebaran pesan - pesan (ide, gagasan, dan inovasi) kepada target dengan kuantitas yang besar. Menurut Rogers dan Storey, kampanye adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang teroganisasi dengan tujuan untuk menciptakan suatu akibat tertentu terhadap sasaran secara berkelanjutan dalam periode tertentu (Ruslan, 2008: 23). Kemudian, dalam buku Ruslan, Kiat dan Strategi Public Relations, Charles U. Larson membagi jenis kampanye ke dalam tiga kategori yaitu:

  1. Product-oriented campaigns atau kampanye yang mengarah pada produk dan dasarnya pada bisnis yang komersil bertujuan untuk pemasaran suatu produk yang baru serta membangun citra postif perusahaan dengan menyelenggarakan kegiatan sosial dan program kepedulian,
  2. Candidate-oriented campaigns atau kampanye yang mengarah pada calon kandidat politik yang memiliki kampanye politik untuk meraih pendukung dalam suatu kegiatan politik di pemerintahan, dan
  3. Ideological or cause campaigns adalah jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Biasanya kampanye ini disebut dengan social change campaigns dan kegiatan kampanye sosial tersebut bersifat non-komersial, seperti kampanye lingkungan hidup, anti-HIV aids, atau kampanye "Langit Biru" (2008: 25-26).


Dilihat dari jenis kampanye yang diuraikan oleh Chares U. Larson, jenis kampanye yang dilakukan oleh Jogja Garuk Sampah adalah ideological or cause campaigns. Jelas bahwasanya Jogja Garuk Sampah melakukan kampanye agar dapat mewujudkan visi yang mereka telah dikatakan saat wawancara yaitu "... merawat dan mengimplementasikan kebudayaan lokal masyarakat kerja bakti dan gotong royong..." dan "... meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan melalui aksi nyata..." (wawancara dengan Maulana, 27 September).

Kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial, adalah kampanye yang sedang dilakukan oleh Jogja Garuk Sampah agar dapat merubah kebiasaan sosial masyarakat untuk dapat menjaga lingkungan dan kearifan lokal.

Kampanye pada dasarnya adalah penyampaian pesan-pesan dari pengirim kepada khalayak. Pesan-pesan tersebut dapat disampaikan dalam berbagai bentuk mulai dari poster, spanduk, billboard. Maka karena itu dalam pembuatan pesan merupakan hal yang sangat penting, agar khalayak pun dapat mengerti apa yang komunikator sampaikan dan tentunya dapat menarik khalayak dalam membaca pesan. Pesan haruslah bersifat efektif. Integritas suatu pesan itu sendiri akan dipengaruhi oleh semua hal yang menjadi penentu bahwa pesan itu ditanggapi secara baik atau tidak dilihat dari:


  • Format. Pesan harus disampaikan menggunakan kata-kata yang tepat, bahkan jenis huruf yang detail dan terperinci, sedangkan pesan yang serius menggunakan huruf serif. Mungkin juga menggunakan bantuan visual yang tepat untuk pesan kampanye tersebut,
  • Tone (Nuansa). Pesan harus memberikan perhatian khusus terhadap suasana hati, yaitu suasana atau gaya yang ingin digambarkan yang tersirat dalam pesan tersebut,
  • Konteks. Konteks dalam pesan itu pun juga penting dalam mengundang tanggapan dari para audiens,
  • Waktu. Pesan yang hendak kita sampaikan hendaknya bersifat baru karena jika informasi tersebut sudah berlalu akan sia-sia, dan
  • Pengulangan. Hal ini membuat informasi lebih mudah diterima dan dicerna. Namun, hindari pengulangan yang membuat pesan tersebut menjadi tidak bernilai lagi (Gregory, 2004: 96-97).


Bila permasalah mengenai pesan, Jogja Garuk Sampah memang belum mempelajari secara serius bagaimana sebuah pesan yang baik. Seperti hal format pesan, Jogja Garuk Sampah memang memilki kepekaan terhadap poster yang akan mereka buat atau sebarluaskan ke masyarakat. Mereka juga mengerti akan pentingnya poster mennarik untuk bisa menarik perhatian relawan juga,  "... kita juga mengemas poster agar semenarik mungin supaya yang baca juga jadi tertarik dan tidak malu-malu untuk ikut berkegiatan... " (wawancara dengan Maulana, 27 September).

Akan tetapi tak jarang pula coordinator, Maulana (20), ynag mengelola pesan yang akan dikirim sering kali masih kesusahan akan penggunaan kata-kata yang tepat. "sebenarnya kita masih mempelajari sih, memppelajari alurnya, apa sih yang disukai anak-anak muda kemudian bacaan apa yang pas, bahasa apa sih yang pas atau konotasinya yang pas untuk anak-anak muda seperti apa ...." (wawancara dengan Maulana, 27 September).

Permasalahan konteks dan waktu masih bisa dikendalikan oleh Jogja Garuk Sampah. Mereka mengerti dalam menulis pesan konteks mana yang penting untuk dituliskan dan sifat kebaruan informasi pun mereka mengerti ketika saat mereka akan menginformasikan kegiatan di grup Whatsapp. Pesan yang disampaikan pun merupakan kegiatan yang akan datang dengan jelas menuliskan waktu dan tempat kegiatan dan bertujuan untuk apa kegiatan tersebut. Akan tetapi dalam unsur tone (nuansa) dan pengulangan, Jogja Garuk Sampah masih belum menyentuh unsur itu secara maksimal dikarenakan pesan yang dikirimkan selalu bersifat formal. Jelaslah pesan seperti itu tidak menggunakan perhatian khusus terhadap suasana hati. Pengulangan pun masih kurang maksimal, dikarenakan koordinator hanya seorang diri dalam mengelola hampir semua pesan yang akan dikirim sehingga terkadang tidak ada pengulangan karena beberapa hal miss atau bahkan adanya human error, yaitu terlupakan.

Pelaku kampanye umumnya harus menyadari bahwa khalayak atau target sasaran merupakan titik tolak bagi setiap kegiatan kampanye. Pemahaman tentang khalayak atau target sasaran merupakan hal yang vital karena menentukan bagaimana kampanye dilaksanakan dan apa hasil yang akan dicapai. Komunikan adalah publik yang menjadi sasaran dalam aktivitas komunikasi, baik komunikasi secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam hal khalayak, Jogja Garuk Sampah menargetkan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dapat diketahuinya segmentasi yang ada turut memberikan arahan akan media komunikasi apa yang digunakan untuk menyebarkan pesan tersebut.

Ruslan (2008: 29-31) mendefinisikan saluran (atau disebut dengan media) sebagai sarana atau alat untuk menyampaikan pesan. Media juga bisa disebut mediator antara komunikator dengan komunikannya. Media atau alat kampanye digolongkan atau dikelompokan sebagai berikut:


  1. Media umum: surat menyurat, telephone, facsimile, dan telegraph.
  2. Media massa: Media cetak, surat kabar, majalah, tabloid, buletin dan media elektronik lainnya
  3. Media khusus: Iklan (advertising), logo dan nama perusahaan atau produk yang menjadi sarana untuk tujuan promosi dan komersial yang efektif.
  4. Media internal: Media lazim digunakan dalam aktifitas komunikasi. Media ini ada beberapa jenis,yaitu: a. House journal, seperti majalah bulanan, profil perusahaan, laporan tahunan perusahaan dan tabloid. b. Printed materials, seperti barang cetakan untuk publikasi dan promosi, berupa booklets, pamphlet, cop surat, kartu nama, memo dan kalender. c. spoken dan visual word, seperti audio visual, video record, tape record, slide film dan broadcasting media.
  5. Media pertemuan, seperti seminar, rapat, presentasi, diskusi, pameran, acara khusus (special events), sponsorship, dan gathering meet.

Media atau saluran yang pilih oleh Jogja Garuk Sampah untuk bisa menginformasikan kegiatan mereka dan mengumpulkan relawan adalah sosial media. Sarana mereka dalam melakukan komunikasi ke warga DIY melalui beberapa akun resmi mereka di media sosial, yakni Facebook di Jogja Garuksampah, Twitter di @garuksampah, dan Instagram di @garuksampah. Teknologi komunikasi yang berkembang dan baru tidak hanya akan mengubah jumlah ketersediaan informasi di masyarakat tetapi juga mempengaruhi isi pesan yang akan disebarkan.

Penggunakan media sosial sebagai media baru dalam berkomunikasi sudah dipikirkan oleh Jogja Garuk Sampah. Dikarenakan adanya perkembangan tekknologi yang sangat cepat, Maulana (20) sebagai kordinator Jogja Garuk Sampah pun menyadari dampak penggunaan sosial media untuk memancing relawan.

Maulana juga menyadari adanya segmentasi target yang berada di masing-masing sosial media. Misalnya Instagram. Maulana membuka akun Instagram karena ranah penggunanya adalah anak-anak SMA, SMP, mahasiswa, sedangkan Facebook umum digunakan kaum ibu-ibu dan bapak-bapak.  Untuk ranah Twitter, Maulana mengatakan kalau dia melihat pengguna Twitter adalah elit-elit politik kemudian dinas bahkan presiden. Twitter itu untuk menyasar badan-badan, tokoh-tokoh pemerintahan, diharapkan nantinya pemerintahan akan mengetahui bahwasannya di masyarakat ada kegiatan seperti yang dilakukan oleh Jogja Garuk Sampah.

Media massa juga merupakan salah satu saluran yang digunakan. Walaupun memang tidak semaksimal penggunaan media sosial, media massa seperti koran, media daring, ataupun televisi dengan sukarela datang meliput Jogja Garuk Sampah tanpa adanya undangan khusus.

Penginformasian melalui lisan juga dilakukan oleh Jogja Garuk Sampah dan masuk dalam kategori media pertemuan. Hal ini jelas karena pemakaian media lisan mengharuskan adanya pertemuan tatap muka. Penginformasian yang dilakukan Jogja Garuk Sampah ada yang namanya edukasi, yakni Jogja Garuk Sampah biasanya memberitahu atau menginformasikan mengenai pentingnya menjaga lingkungan atau membuang sampah pada tempatnya, "biasanya kita memakai pengeras suara...", "kita memberitahhu pengunjung bahwasanya kepada para pengunjung dan wisatawan dikawasan ini agar membuang sampah pada tempatnya, biasanya kita jelaskan kok tentang bentuk tempat kayak bagaimana dan berada dimana," (wawancara dengan Maulana, 27 September).

inilah yang dilakukan oleh Jogja Garuk Sampah dan info apa yang biasa mereka berikan di tengah keramaian, lain halnya bila mereka ke kampung-kampung mereka memberikan informasi dari pintu ke pintu atau orang ke orang, atau nantinya akan diajak untuk berdiskusi, bahan diskusi yang mereka angkat adalah sejarah lokal, yang nantinya akan membahas mengenai sampah.

Ada juga melalui eduaksi, melalui eduaksi,euaksi ini merupakan sebuah contoh aksi nyata untuk menginformasikan ke masyarakat, "Contoh ya dengan event rutin kita dan juga kalau kita lihat orang buang sampah sembarangan nah pas kita menegur mereka ya tidak terima, ya cara lain menegurnya dengan eduaksi, dia buang sampah dimana kita ambil sampah disekitar dia bahkan di depan dia , nah itu pasti dia ngeliat muncul rasa kaya " oh tadi saya buang disini dan ada tempat sampah" ya nanti dia buang sendiri sampahnya."(wawancara dengan Maulana, 27 September).

Yudikasi juga merupakansuatu penginformasian bagi masyaraat, walaupun ini juga merupakan sebuah teguran bagi masyarakat Yogyakarta. Akan tetapi memberikan informasi hukum kepada masyarakat juga merupakan hal yang penting untuk membuat mereka mengerti akan hukuman membuat sampah atau tidak menjaga lingkungan, agar dapat memberikan sebuah efek jera. Terkakhir yaitu melalui pendekatan religi yaitu melalui pendekatan agama , dan juga terkadang Jogja Garuk Sampah membawa tokoh-tokoh, bagi mereka yang budayawan biasanya Jogja Garuk Sampah akan lebih menonjolkan kea rah kearifan lokal dan mengajak menggali lagi mengenai kearifan lokal seperti gotong royong.

Ada cara unik lain yang dilakukan oleh Jogja Garuk Sampah yaitu "Caper" atau cari perhatian, Jogja Garuk Sampah tidak mengajak atau menginformasikan secara langsung. Awalnya Jogja Garuk Sampah akan membuat masyarakat penasaran, dengan cara memakai baju-baju yang nyelenehatau bisa disebut baju-baju yang unik, contohnya saat mereka membersihkan sampah di area Pokok Benteng Wetan, Maulana sang kordinator menggunakan pakaian Sekolah Dasar (SD), hingga ada seorang yang menanyakan kegiatan apa yang dilakukan. "Jadi untuk menggaet relawan itu kita membuat orang-orang penasaran untuk merasakan apa sih yang didapat dari garuk sampah" ujar Maulana (Wawancara , 27 September 2017).

Ini merupakan kategori dari media internal yang meyenggol mengenai spoken dan visual word, seperti audio visual, video record, tape record, slide film dan broadcasting media. Kategori media umum dan media khusus tidak digunakan oleh Jogja Garuk Sampah dalam menyalurkan informasi mengenai mereka.

Dari semua aspek mengenai kampenye Jogja Garuk Sampah memang telah memaksimalkan unsur-unsur dalam membuat sebuah kampanye yang baik dan efektif. Mulai dari pesan, mereka mempelajari alur dan target sasaran. Jogja Garuk Sampah sudah bisa mensegmentasikan lebih rinci target sasaran mereka dengan jelas dan berpengaruh dalam pemilihan media atau saluran yang digunakan. Meski begitu pengelolaan pesan yang akan disebarkan perlu diperbaiki dan juga harus diperhatikan secara serius. Hal ini menjadi penting karena pesan merupakan hal yang vital serta menjadi penentu berhasil atau tidaknya sebuah kampanye. Jogja Garuk Sampah telah membuktikan walaupun gerakan yang dilakukan bukanlah kampanye berskala besar, akan tetapi mereka mampu mengorganisir dengan baik.

Daftar Pustaka


Gregory, Anne. (2004). Alih bahasa Dewi Damayanti . Seri Praktik PR: Perencanaan dan Manajemen. Kampanye Public Relations. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Maulana, Maulana. (2017, 27 September). Wawancara Pribadi.

Mulyana, Deddy.(2007). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ruslan, Rosady. (2008). Kiat dan Strategi Public Relations. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Sarmudyahsari, Dewi . (2017, 02 Maret). Gerakan Jogja Garuk Sampah, Bangun Kesadaran Warga Peduli Lingkungan. Radar Jogja. http://www.radarjogja.co.id/gerakan-jogja-garuk-sampah-bangun-kesadaran-warga-peduli-lingkungan/. Diakses pada tanggal 30 September 2017.

Soemirat, Soleh, Hidayat, Safari dkk. (2008). Komunikasi Persuasif. Jakarta: Universitas Terbuka.