YOGYA, KRJOGJA.com – Tali tampar berwarna-warni yang sejak empat tahun terakhir seolah dibiarkan begitu saja tertempel di tiang lampu di Jalan AM Sangaji, Blunyah Gede akhirnya menghilang, Rabu (29/4/2020) malam. Setelah dibiarkan oleh para pemangku kebijakan, sampah visual yang berasal dari sisa spanduk promosi tersebut akhirnya bersih.

Para relawan dari komunitas Garuk Sampah yang rela melakukan pembersihan secara cuma-cuma. Padahal, mereka tak diuntungkan oleh spanduk-spanduk promosi event ataupun produk yang dahulu terpasang megah melintang di atas jalan tersebut.

Bekti Maulana, salah satu penggerak komunitas mengungkap sampah tali tampar warna-warni sisa spanduk di kawasan batas kota antara Yogyakarta-Sleman sudah diamatinya sejak empat tahun lalu. Berulang kali ia menyampaikan harapan agar instansi berwenang melakukan pembersihan karena selain mengganggu secara visual juga sekaligus membahayakan.

“Saya sudah sampaikan tapi ternyata tidak pernah direspon. Setelah berembug dengan teman-teman dan melihat aman bisa diatasi sendiri, yasudah bergerak. Itu mengganggu sekali secara visual karena berada tepat di depan gapura batas kota. Bisa membahayakan juga karena tali-tali itu menjulur ke bawah,” ungkapnya pada KRjogja.com, Kamis (30/4/2020).

Setelah akhirnya bisa diamankan menggunakan pisau untuk memotong, ternyata tali-tali tersebut sangat berat. Bahkan sampai bisa digunakan untuk menutup satu motor matic.

Bergotong-royong membersihkan tiang PJU gapura Blunyah Gede sisi timur

Meski sempat turun rintik hujan, cuaca mendukung giat berlangsung

Senyum merekah di wajah Kopyordinator dan relawan pemanjat setelah pembersihan usai

Jumlah tali ikat terlampau banyak, kurang lebih 20 kilogram

Bekti Maulana melepas lelah sebentar setelah menuruni gapura

Mengikat tali untuk dibawa ke gudang basis Garuk Sampah

Tali yang diikat pun dibawa menggunakan sepeda motor matik


Pun apa yang dilakukan tidak mudah dan berisiko. Bekti dan kawan-kawan harus naik ke gapura batas kota tanpa pengaman memadahi, dan tiang lampu PJU yang sudah bergoyang karena beban tali berat.

“Kami sempat ragu karena tiang PJU yang terpasang tali-tali itu sampai goyang karena berat sekali. Kami total 19 kilogram itu baru satu tiang saja di sisi timur. Untuk sisi barat kami tidak berani karena ada jaringan listrik dan perlengkapan kami tidak memadahi, sangat berisiko. Ya kami hanya bisa sampaikan lagi, instansi terkait yang punya peralatan,” ungkapnya lagi.

Komunitas Garuk Sampah sendiri terus bergerak untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di wilayah DIY. Namun di tengah pandemi, mereka hanya bisa mengerahkan maksimal 10 orang relawan untuk mencegah kerumunan sesuai himbauan pemerintah. (Fxh)

Tayang di: