Rabu (6/5) minggu lalu, pembersihan tiang PJU lagi-lagi terkendala oleh cuaca yang tidak mendukung. Meski begitu, kami menganggapnya sebagai 'teguran alam' untuk istirahat sejenak. Pembersihan tiang PJU pun dilanjutkan pada Rabu (13/5) malam ini.

Dari kediamannya di Pleret, Bantul, Mas Kopyor bersepeda dengan fixie barunya. Tingginya angka kriminalitas di DIY tidak menggoyahkan niatnya untuk tetap giat seminggu sekali. Berbekal lampu senter sepeda, Ia melewati keheningan malam di tengah persawahan. Ia segera mendatangi kediaman salah satu kawan Garuk Sampah yang biasa membawakan kami tangga lipat.

Tangga lipat dibawa ke lokasi menggunakan motor matik dengan disanggulkan pada bahu. Mas Kopyor dan kawan Garuk Sampah sedikit santai karena pembersihan hanya menyelesaikan ikatan tali yang tersisa. Masmin pun langsung datang saja ke lokasi untuk mendokumentasikan kegiatan seperti biasa.

Mengikat tangga lipat ke tubuh tiang supaya lebih seimbang


Tangga lipat dibuka, diikat menggunakan sebagian ikatan tali yang dikumpulkan tempo hari. Malam ini hanya Mas Kopyor yang naik karena sudah piawai dalam urusan panjat memanjat. Kawan Garuk Sampah ditugasi menyorot tali dari arah bawah menggunakan senter sepeda. Sedang Masmin memilih membeli beberapa botol air minum dingin untuk menghapus dahaga.

Mas Kopyor mempersiapkan ikatan tali webbing untuk pengaman

Pembersihan berlangsung selama 30 menit saja

Selebrasi keberhasilan pembersihan dua tiang PJU di Sagan

Dua tiang berhasil dibersihkan, kemana Pemkot Jogja selama ini


Pembersihan berlangsung singkat berkat kapak rimba yang sudah diasah. Dalam satu hingga lima ayunan, beberapa ikatan tali pun putus. Mas Kopyor tampak bersemangat meskipun sudah bermandikan keringat. Protes dengan aksi langsung selalu berhasil mematahkan setiap argumen dan alasan aparatur Pemerintah Kota Jogja kenapa lamban dalam bertugas. Mungkin motivasi inilah yang menyemangatinya di setiap Rabu malam.

'Min, wis meh rampung. Tolong direkamke yo,' ujar Kopyor pada Masmin untuk menyiagakan kamera ponsel, menyoroto ke arah gundukan tali yang hampir rampung. 

Segera Masmin aktifkan kamera dan stabilizer, menyorot ke arah tiang.

Teng... teng... teng...

Bunyi ujung kampak menghantam tiang menggema diantara pertokoan. Tali pun merosot dan jatuh ke atas aspal, disusul dengan sorat gembira Mas Kopyor merayakan bersihnya dua tiang PJU Sagan.

Melihat selebrasi sederhana kami, salah seorang warga setempat mendonasikan aneka jajanan tradisional pada kami. Disodorkannya nampan kecil itu berisi aneka panganan mulai dari kue apam, dadar gulung, hingga cenil. Tak lupa kami berterima kasih atas dukungan beliau.

Mengikat hasil pembersihan untuk dibawa ke basis Garuk Sampah

Donasi penganan dari salah satu warga sekitar Sagan sebagai bentuk apresiasi terhadap kerelawanan kami, maturnuwun!


Giat berakhir. Sebelum pulang, Masmin berboncengan motor dengan Mas Kopyor menuju ke Simpang Bugisan dan diikuti motor kawan Garuk Sampah. Tak jauh dari simpang empat ini, sekitar 100 meter ke arah selatan, tiang PJU di sana ikut mengalami nasib yang sama dengan tiang PJU di Blunyah Gede dan Sagan. Polanya pun mirip, gundukan ikatan tali ikatan spanduk terjadi pada tiang PJU di tapal perbatasan antar daerah.

Sampai jumpa pada pembersihan di minggu depan.