Meski Ramadhan sudah berakhir lebih dari seminggu yang lalu, beberapa sampah iklan spanduk promosi layanan zakat masih mendominasi beberapa sudut Kota Jogja. Bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah. Banyak Muslim berlomba-lomba berbuat kebaikan guna memaksimalkan pahala ibadah mereka dalam tiga puluh hari. Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dimana setiap kepala wajib membayar zakat fitrah sebelum Idul Fitri, ditandai dengan banyaknya spanduk layanan zakat dari yayasan keagamaan. Sebenarnya konten dari spanduk layanan zakat ini bagus, menarik, namun praktek pemasangannya serampangan sehingga justru menciptakan #sampahiklan.

Spanduk Rumah Yatim dan Dompet Dhuafa dipasang vertikal, memberi kesan saling berebut sumbangan

Spanduk dari Nurul Hayat dan Dompet Dhuafa yang dipasang terikat pada rambu di Simpang Jetis

Area pemasangan spanduk yang disediakan pemerintah daerah justru kosong melompong


Sepemantauan Masmin dan Mas Kopyor, jelang minggu terakhir Ramadhan, setidaknya ada empat yayasan zakat yang menyalahi aturan pemasangan iklan. Keempat yayasan tersebut diantaranya Dompet Dhuafa, Rumah Yatim, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Nurul Hayat, hingga takmir Masjid Jogokariyan. Meskipun sebenarnya pemerintah daerah telah menyediakan tempat resmi pemasangan iklan berupa rangka besi yang hampir tersedia di setiap persimpangan jalan protokol, lembaga-lembaga amal tersebut justru memasangkan spanduk dengan diikatkan pada tiang PJU, tiang rambu, dan bahkan pagar properti seseorang. Selain melanggar, spanduk-spanduk lembaga amal ini turut merusak estetika kota selaiknya spanduk promosi pada umumnya.

Spanduk ucapan Idul Fitri juga jadi sampah iklan. Khusus spanduk dengan 'tema' yang satu ini umum datang dari organisasi masyarakat hingga partai politik. Di Jogja memang ada banyak sekali komunitas dengan latar belakang yang beragam, ada yang independen, ada pula yang partisan. Untuk spanduk jenis ini, sewaktu patroli berlangsung relawan Garuk Sampah melewatkannya karena masih dalam suasana Lebaran dan materinya cukup relevan meski sudah usang. Selain itu, spanduk ini termasuk iklan layanan masyarakat apabila mengacu pada peraturan daerah Kota Jogjakarta.

Spanduk dari Yayasan Rumah Yatim dipasang tertumpuk di Simpang Boplaz karena memuat konten yang berbeda


Iklan layanan masyarakat dari kepolisian bersanding dengan spanduk ucapan Lebaran dan ajakan berzakat dari Dompet Dhuafa di Simpang Boplaz

Spanduk lembaga amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang dipasang mengikat pada tiang pancang bendera Pasar Telo, Kota Jogja serta tertutup spanduk himbauan aparatur kelurahan setempat

Spanduk dari takmir Masjid Jogokariyan dan GP Ansor Jogja yang terikat pada pagar properti seseorang

Spanduk-spanduk dari lembaga amal ini memuat konten bagus, berisi ajakan berderma, namun tetap melanggar perda


Selain spanduk dengan tema keagamaan, banyak juga spanduk dengan tema kesehatan khususnya himbauan semasa wabah Covid-19 berlangsung. Meski spanduk yang satu ini tergolong iklan layanan masyarakat (public service announcement/PSA), tetap saja pemasangan yang serampangan menjadikannya masalah lain. Khusus sampah iklan dengan muatan penyadaran terkait Covid-19 didominasi spanduk dari Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY). Sebagai lembaga yang menjamin keamanan dan ketertiban di masyarakat, Polda DIY merasa harus memasang spanduk dalam jumlah banyak hingga di Simpang Demangan, spanduk dipasang menyalahi aturan umum etika pariwara dan tidak beraturan.

Tidak peduli apa konten dari spanduk, Garuk Sampah tetap konsisten melawan sampah, khususnya sampah iklan yang menjadi problema menahun di Daerah Istimewa Yogyakarta. Semoga lembaga yang bersangkutan mengevaluasi cara mereka menyampaikan pesan kepada khalayak umum sehingga tidak mencederai estetika kota, apalagi sampai harus menyalahi perda.