Rabu (15/1) malam, suasananya sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Hari ketiga di minggu kedua tahun 2020 ini Kota Jogjakarta sama sekali tidak diguyur hujan. Bahkan, sudah lebih dari dua puluh empat jam sejak hujan terakhir reda. Alhasil malam itu jalanan kota sedikit berdebu.

Kondisi sisi barat laut Simpang Balaikota pra-giat

Seng penutup lahan kosong dipenuhi poster iklan

Pukul 19:00, Bekti selaku kopyordinator tiba di depan Rumah Dinas Walikota yang memang ditetapkan sebagai titik kumpul giat ke-251. Tak lama berselang, beberapa relawan giat dari komunitas sepeda tinggi menyusul. Meski sedang masa liburan bagi sebagian besar kampus di DI. Yogyakarta, beberapa mahasiswa yang memilih tetap di perantauan ikut bergabung pada giat malam ini. Giat dimulai pukul 21:00 karena menunggu massa relawan yang lebih besar dari arah Bantul.

Relawan bergotong-royong membersihkan panel listrik dari tempelan poster

Meskipun Simpang Balaikota terletak tepat di sebelah kantor pemerintahan Kota Yogyakarta, rupanya tidak luput dari sampah visual. Di sisi barat laut persimpangan terdapat tanah kosong yang dipagari dengan seng. Seng ini menjadi medium favorit bagi para promotor even, produk, maupun usaha menempel poster mereka. Sedang di sisi timur, tiang-tiang listrik dan tiang serat optik dijejali poster salah satu operator layanan telekomunikasi yang mana kantornya tepat berada di Jln. Kenari.

Poster-poster dari layanan operator seluler ikut merusak pemandangan kota


Tiang listrik biasa menjadi sasaran tempel sampah visual

Dari sekian jenis sampah yang ditemukan, banyaknya sampah tisu menjadi sorotan tersendiri. Di Simpang Balaikota jarang ditemui adanya tempat makan. Ada angkringan pun hanya satu di sisi timur saja. Akan tetapi jumlah tisu yang berserakan begitu banyak hingga tidak sedikit yang tersangkut di taman pedestrian. Meskipun bisa terurai, zat kimia dari tisu-tisu ini tetap dapat mencemari tanah. Alhasil para relawan pun tetap memasukkannya ke dalam kantong sampah.

Banyak sampah tisu dan sampah-sampah lain yang dimasukkan ke dalam lubang pancang tiang

Relawan menemukan banyak sekali tisu di sekitaran area Balaikota

Supaya suasana cair, relawan biasa berdiskusi dan bercanda sembari membersihkan tiang APILL

Selesai dengan Jln. Kenari di sisi timur, relawan bergerak di Jln. Kenari di sisi barat Simpang Balaikota. Di sini sebagian sampah visual telah dibersihkan oleh relawan Garuk Sampah dari komunitas sepeda tinggi yang lebih memilih memencar supaya kerja lebih efektif dan efisien. Relawan lain cukup memungut sobekan poster yang berserakan di trotoar.

Relawan Garuk Sampah menjadi perhatian para pengguna jalan

Ada satu kejadian unik dimana disaat giat berlangsung, terdapat rombongan dua motor yang mungkin adalah panitia even, berencana memasang poster mereka di seng penutup lahan kosong. Tanpa banyak basa-basi, relawan menegur ketiga 'calon pelaku' vandalisme ini yang diperkirakan masih mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sempat terjadi ketegangan karena pelaku beranggapan bahwa medium ini biasa ditempeli poster even dan produk, namun sekali lagi, Garuk Sampah muncul sebagai pengawal amanat peraturan daerah soal tata ruang dan pariwara. Kalah argumen, ketiga calon pelaku vandal tersebut segera beralih ke simpang jalan yang lain.

Meski banyak yang belum saling kenal, namun kehangatan tetap ada diantara para relawan

Satu jam berlalu, waktu menunjukkan pukul 22:00 WIB. Keduapuluh tiga relawan pun bergegas kembali titik awal di depan Rumah Dinas Walikota. Beberapa pegawai pemerintahan seperti Satpol PP yang bertugas jaga di sekitaran rumah dinas sempat menanyai kenapa ada gerakan bersih-bersih sampah di area Balaikota dengan nada sedikit meninggi. Dengan ramah, Bekti selaku kopyordinator menjawab, "Ini adalah bentuk keresahan dan ketidakpuasan kami atas kinerja Pemerintah Kota Jogja."

Seperti biasa giat ditutup dengan perkenalan dan srawung