Hujan deras yang sempat mengguyur Yogyakarta pada Selasa (31/12) petang rupanya tidak menyurutkan animo para wisatawan untuk tetap merayakan tahun baru di sekitaran Tugu Jogja dan Kawasan Malioboro. Ribuan masyarakat berbondong-bondong memenuhi badan jalan sembari menghitung mundur 2019.

Pukul 20:00 malam, beberapa relawan #GarukSampah kembali berkumpul di tugu jam di Jln. Abu Bakar Ali. Kegiatan giat ke-249 kali ini cukup spesial karena relawan akan melakukan kampanye kesadaran lingkungan terlebih dahulu. Bahan-bahan materi kampanye sudah dicetak dalam medium kertas poster ukuran A3 sehingga mudah terbaca oleh para pejalan di sepanjang Malioboro.

Bekti dan para relawan menyambut kedatangan pengunjung di kawasan Malioboro

Satu jam kemudian, relawan mulai mengampanyekan kesadaran kebersihan di sepanjang Jalan Malioboro. Bekti Maulana, sang kopyordinator awalnya menyambut para wisatawan yang telah menyemarakkan Jogja menggunakan megafon merahnya,

"Sejauh mata memandang belum terpantau wajah mantan yang dulu sedap dipandang. Kepada para pengunjung dan wisatawan kami ucapkan selamat datang."

Sambutan dari Bekti sontak menciptakan gelak tawa di kalangan pengunjung. Ribuan mata pun tertuju pada sumber suara, dimana Bekti dan para relawan mengangkat tinggi-tinggi poster sederhana yang menyuarakan kesadaran lingkungan tersebut.

Tak hanya relawan, beberapa pengunjung turut antusias mengampanyekan kebersihan lingkungan

Di ujung selatan Jalan Malioboro, tepatnya di Gedung Agung - Istana Negara, kerumunan masyarakat memenuhi jalan. Mereka menanti kehadiran Presiden Republik Indonesia untuk ikut merayakan malam tahun baru di Jogjakarta. Alhasil kampanye sampai di titik ini dan relawan kembali berkampanye ke titik awal di Jln. Abu Bakar Ali. Beberapa rekan media pun menyambangi relawan dan menyambangi Bekti, sembari menanyakan asal-usul gerakan ini.

***

Semua tempat sampah di kawasan Malioboro telah penuh sesak, kapasitas tidak mencukupi

Kembang api meluncur ke udara, memecah keheningan malam dengan letupan dan pancaran api warna-warninya. Ribuan mata kamera memandang langit, sejenak melupakan 2019 dan berharap kondisi yang lebih baik untuk 2020. Sepuluh menit berselang, relawan bergegas mengenakan sarung tangan, membawa kantong sampah, menyusuri Jalan Malioboro. Fokus pembersihan adalah di badan jalan, dekat saluran drainase, dan taman penghias pedestrian. Tidak butuh waktu lama, dalam tiga menit dua kantong sampah sudah terisi penuh.

Animo masyarakat untuk berlibur di kawasan Malioboro memang sangat tinggi, sayangnya tidak banyak yang sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan, sebagai tamu bagi Jogjakarta.

Pada perayaan malam tahun baru 2019, kawasan Tugu Jogja hingga Alun-alun Selatan menyumbang 15 ton sampah. Apabila dirinci, maka kawasan Tugu menyumbang 2,5 ton; Malioboro hingga Titik Nol sumbang 5 ton; Alun-alun Utara sebanyak 5 ton; dan Alun-alun Selatan menyumbang 2,5 ton. Angka ini tentu akan terus meningkat mengingat Jogja merupakan kota yang ngetren sebagai tujuan wisata. Belum lagi kondisi ini diperparah dengan wisatawan yang tidak peduli untuk membuang sampah pada tempatnya. Selama satu setengah jam aksi garuk yang dilakukan relawan, sampah yang didominasi dengan botol minuman sekali tenggak ditinggalkan begitu saja di bawah bangku pedestrian, atau di dalam pot tanaman hias.

Relawan Garuk Sampah menggaruk kawasan pedestrian dan badan Jalan Malioboro

Selain Garuk Sampah, ada banyak komunitas lingkungan lain yang ikut membersihkan kawasan Malioboro

Relawan Garuk Sampah memindahkan kantong sampah ke bak motor DLH

Petugas kebersihan dari UPT Malioboro mengangkut sampah menuju titik angkut terdekat


Mengampanyekan kesadaran lingkungan bisa dilakukan oleh siapa saja, dan kapan saja