Setiap minggu, tak henti-hentinya relawan Garuk Sampah membersihkan simpang demi persimpangan jalan di Kota Jogja. Meski terlihat massif dari banyaknya sampah yang digaruk, namun apa yang dilakukan para relawan belumlah cukup untuk membersihkan Jogja apabila kesadaran dari masyarakat dan penegakan hukum dari pemerintah kota belum benar-benar berkesinambungan. Di Kota Jogja sendiri terdapat 85 persimpangan jalan tingkat kota, baik dengan maupun tanpa lampu APILL. Sedangkan giat rutin Garuk Sampah diadakan setiap minggu, berarti akan ada 52+4=56 giat di setiap tahunnya. Mengapa 56 kali, bukannya setahun ada 52 minggu? Setiap bulan Ramadhan, giat rutin diadakan dua kali seminggu dan fokus mengitari kawasan Kraton. Alhasil, untuk kembali di titik persimpangan yang sama, relawan akan menggaruk selama 1,5 tahun di persimpangan yang lain terlebih dahulu.

Bekti Maulana susuri Jln. Tegalgendu guna meninjau persebaran sampah

Spanduk vertikal yang ditumpuk

Simpang Tegalgendu merupakan salah satu persimpangan vital di Kota Jogja. Meski letaknya di ujung selatan kota, simpang ini dilalui oleh banyak pejalan yang akan menuju dan dari Terminal Giwangan. Karena simpang ini cukup strategis, alhasil banyak sekali sampah visual berupa spanduk vertikal (round tag) dipasang serampangan—tak hanya diikat di tiang, tapi dipaku di pepohonan perindang.

Sampah visual juga dipaku di pepohonan, melanggar pasal berlapis


"Kalau dipaku di pohon kayak gini bisa kena pasal berlapis," ujar Kopyordinator Bekti Maulana sewaktu meninjau area jalan-jalan yang membentuk Simpang Tegalgendu.




Sampah visual juga dipaku di pepohonan, melanggar pasal berlapis

Bekti menyusuri area Simpang Tegalgendu guna mendeteksi sampah

Tak lupa Bekti ikut meninjau saluran drainase kota di Jln. Tegalturi yang lebarnya hanya 1,5 meter. "Kemarin-kemarin di jalan ini terjadi banjir," tunjuk Bekti ke arah selokan yang kini penuh sampah plastik dan rumah tangga, "Banyak buangan minyak jelantah dari rumah makan ke sini."


Sampah yang menumpuk dan tertahan sempadan Jln. Tegalturi


Seusai memantau area giat ke-253 ini, Bekti kembali ke titik awal. Beberapa relawan mulai berdatangan, saling bersapa dan menanyakan kabar. Beberapa relawan ada yang membawa kudapan dan minuman untuk dibagikan. Sebelumnya satu-dua relawan diminta untuk membawa 'peralatan tempur' yang tidak seperti biasanya. Salah satu relawan, Suparlan (36) membawa tangga lipat untuk menjangkau spanduk yang terpasang tinggi. Hal ini dilakukan karena pada giat minggu sebelumnya, dalam melepas spanduk yang tinggi relawan terkendala alat dan takut tersetrum apabila memanjat tiang.

Sampah visual juga dipasang serampangan di pagar pekarangan orang

Pukul 20:30, sebanyak 20 relawan sudah terkumpul. Supaya kerja efektif, Kopyordinator mengarahkan para relawan supaya dibagi menjadi dua kelompok, "Kelompok 1 ke arah timur (Jln. Tegalgendu) dan utara (Jln. Pramuka). Kelompok 2 ke selatan (Jln. Imogiri Timur) dan barat (Jln. Tegalturi)." Tak lupa, Bekti mengarahkan fokus garuk malam ini, "Ada banyak spanduk terpasang. Alat-alat sudah disediakan."


Sampah visual juga dipasang serampangan di pagar pekarangan orang


Giat pun dimulai, relawan mulai berpencar. Dalam setiap giat, umumnya relawan akan fokus melakukan tiga hal: melepas spanduk, membersihkan ruang milik jalan, dan menghapus poster/tempelan. Beberapa relawan ada yang ditugaskan melakukan dokumentasi dan membawa kantong sampah. Semuanya terkoordinasi dengan baik dalam solidaritas mekanik.

Relawan dengan jeli membersihkan tempelan di tiang APILL

Satu per satu sampah dipungut, tempelan ilegal dibersihkan, spanduk diamankan. Giat pun selesai lebih cepat dari biasanya dalam 45 menit saja. Relawan kembali ke titik kumpul di samping toko modern waralaba untuk melepas kayu pembingkai dari spanduk vertikal—kami biasa menyebutnya round tag. Tak disangka-sangka, jumlah spanduk terkumpul dari Simpang Tegalgendu saja mencapai 45 buah. Masih sama, spanduk didominasi iklan tempat usaha, jasa medis, hingga promosi start-up baru yang cabangnya tidak jauh dari lokasi giat.

Relawan menghitung jumlah spanduk yang terkumpul di Simpang Tegalgendu


Karena waktu belum terlalu malam dan relawan masih bersemangat, Kopyordinator memutuskan untuk pindah ke Simpang Wirosaban (RSUD Jogja). Simpang ini juga terletak di pinggir batas kota, sehingga mungkin luput dari perhatian Pemerintah Kota Jogja yang hanya fokus di daerah ramai wisatawan seperti Malioboro saja.

Kastaisme dalam periklanan luar ruang

Relawan saling panjat guna menjangkau spanduk yang terpasang tinggi

Tangga lipat, salah satu alat tambahan di giat ke-253 ini

Relawan membersihkan tempelan di Simpang Wirosaban (RSUD Jogja)

Relawan dengan berbagai moda pindah ke Simpang Wirosaban. Tanpa pikir lama, semua turun tangan bergotong-royong memunguti sampah, melepas spanduk, dan membersihkan tempelan. Sama seperti Simpang Tegalgendu, simpang ini juga tidak terurus. Rumput-rumput liar tumbuh menjadi perintang bagi pejalan di trotoar, batu-batu pecahan sempadan trotoar pun tidak diungsikan. Giat di lokasi kedua juga berlangsung cepat karena relawan sudah tahu bagian mereka. Giat selesai pukul 22:30 WIB—ditutup dengan srawung sembari menikmati martabak manis, aneka cemilan tradisional, dan teh hangat sumbangan sesama relawan.

Relawan membersihkan tempelan di Simpang Wirosaban (RSUD Jogja)

Tak disangka-sangka, giat ke-253 berhasil mengumpulkan banyak sekali sampah. Fantastis, 74 spanduk vertikal (round tag) dan 1 spanduk bentang terkumpul, dan 2 karung sampah jalanan dipungut. Alat yang digunakan sebanyak 12 scrapper, 2 tang, 1 kapak, 2 kantong sampah, ditambah 1 tangga lipat dan 1 linggis untuk mencabut paku di pohon.