Rabu (5/2) malam, Bekti menanti para relawan berkumpul di Simpang Jogokariyan. Salah satu relawan—mahasiswa aktif yang kembali ke Jogja lebih awal sebelum masa liburan usai, sudah tiba jauh sebelum sang Kopyordinator datang. Tak lama berselang, datang seseorang dengan kamera besar di tangannya. Ia menanyakan siapa koordinator gerakan ini, "Saya sendiri Pak." Tanpa basa-basi, orang tersebut segera mem-briefing Bekti untuk sesi wawancara. Ya, lagi-lagi rekan media tertarik untuk meliput rutinitas kami meski tak jarang berasal dari media yang sama. Kali ini yang hadir adalah wartawan MetroTV.

Seperti biasa, sembari Kopyordinator menghimpun massa, Masmin menyisir kawasan sekitar guna membidik dan mendeteksi sampah sejak dini. Sampah-sampah yang berserakan di ruang milik jalan (rumija) atau tersembunyi di rerumputan, tempelan flyer dan poster di dinding, serta ikatan spanduk dan round tag dipantau. Untuk area Simpang Jogokariyan tidak begitu kotor daripada persimpangan di sekitarnya (Simpang Jokteng dan Simpang Pasar Telo Karangkajen). Selesai memantau dan mendokumentasikan sampah, Masmin mengisi botol semprot yang biasa digunakan untuk melunakkan tempelan poster di tiang-tiang jalan.

Kondisi dinding pra-giat


Giat kali ini cukup spesial karena salah satu kawan Garuk Sampah yang dulu rutin ikut giat namun sempat vakum, kini kembali lagi. Sebelumnya relawan yang satu ini pernah mengundang Garuk Sampah untuk ikut menyemarakkan piknik Yayasan Peduli Anak Yatim Klaten di Pantai Goa Cemara, Desember 2019 lalu. Garuk Sampah berperan melakukan eedukasi kepedulian lingkungan kepada anak-anak didik yayasan tersebut. Selang sebulan kemudian, pihak yayasan menganugerahkan sertifikat keikutsertaan Garuk Sampah pada even akhir tahun lalu. Sebagai timbal balik, sebanyak 8 relawan dari yayasan ybs. mengikuti giat malam ini. "Berhubung lagi dekat dari Prambanan," namun di sisi Jawa Tengah.

Supaya efektif, jumlah relawan dibagi ke dalam beberapa kelompok

Esensi Garuk Sampah adalah semangat gotong royong membersihkan lingkungan


Sebagai gerakan yang sudah berlangsung lebih dari 4 tahun, Garuk Sampah sering diliput oleh media massa maupun media kampus-kampus di Jogja. Rabu malam ini pun 5 mahasiswa/i dari Universitas Atma Jaya menyempatkan diri untuk ikut turut serta membersihkan Simpang Jogokariyan, "Kami sebenarnya sudah menghubungi sejak November lalu. Tapi maaf kak baru kesampean sekarang." Berhubung relawan belum banyak tiba, wawancara tugas kuliah didahulukan.

Bekti mengikat sampah poster dengan tali rafia

Aksi giat menjadi perhatian masyarakat sekitar

Sampah visual untuk sementara dikumpulkan sebelum nanti 'diserahkan' ke pihak berwenang

Pukul 20:45, giat dimulai dengan 24 relawan. Supaya kerja efektif, relawan dibagi ke dalam dua kelompok dengan pembagian area, "... kelompok 1 fokus ke Jln. Menukan dan Jln. Paris di utara, kelompok 2 ke barat (Jln. Jogokariyan) dan selatan." Selesai briefing, relawan bergegas menggaruk sampah, termasuk dengan menyisir rerumputan dan lubang selokan. Demi keamanan dan keselamatan para relawan, beberapa round tag yang dipasang tinggi diabaikan dari pengamanan karena giat kali ini Kopyordinator tidak membawa tangga lipat. Di tengah giat, rombongan relawan dari komunitas sepeda tinggi datang sehingga membantu percepatan pembersihan.

Banyak spanduk kadaluarsa yang diamankan meski terpasang di tempat yang legal

Relawan saling bercanda-ria di malam temaram


Giat selesai 45 menit kemudian. Ketiga puluh empat relawan pun saling berkenalan dan membagikan kesan-pesan selama pelaksanaan giat. Guna peremajaan alat-alat giat, donasi pun dibuka. Total donasi terkumpul malam ini sebanyak Rp. 45.000, cukup untuk perawatan scrapper yang rusak/patah. Sebanyak empat karung sampah terkumpul, dan 11 spanduk diamankan.