Berbeda dengan aksi bersih-bersih sebelumnya, giat ke-260 hanya diikuti oleh dua orang saja, yakni Masmin dan Kopyordinator. Hal ini dilakukan supaya dapat melindungi para kawan dan relawan Garuk Sampah menyusul merebaknya wabah Covid-19 di Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini dilakukan supaya tidak ada carrier virus yang tentu adalah individu diantara relawan Garuk Sampah yang mengikuti giat, lalu karena banyaknya peserta giat dari penjuru DIY, justru menjadikan para relawan sebagai 'agen' yang ikut membawa virus tersebut keluar dari forum. Alhasil, apabila giat ke-259 di Simpang Bugisan lalu diikuti oleh 25 relawan, menurun drastis hingga 2 orang saja di malam ini.

Sebelumnya, Kopyordinator telah mengeluarkan maklumat yang disebarluaskan di dalam grup WhatsApp Jaringan Komunitas (Jarkom) Relawan JGS. Maklumat ini meminta setiap anggota grup supaya tidak datang ke giat-giat berikutnya dan melaksanakan giat rutin di kediaman masing-masing. Kebijakan ini berlaku hingga waktu yang belum ditentukan dengan melihat kondisi perkembangan wabah Covid-19 di masyarakat. Aturan ini ikut berimbas pada desain poster yang tidak lagi mencantumkan lokasi pelaksanaan giat supaya tidak ada kawan dan relawan Garuk Sampah yang lantas gegabah tetap berangkat ke lokasi. Dan giat pun hanya dilakukan oleh Masmin dan Kopyordinator saja. Mengapa tetap dilaksanakan giat? Karena Garuk Sampah ingin tetap konsisten dalam menjaga kebersihan lingkungan termasuk tata visual sekaligus mengkritisi kinerja Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai regulator. Tentu konsistensi adalah kunci utama dari gerakan ini.

Simpang Wirobrajan relatif sepi dibanding hari-hari sebelum Covid-19 mewabah di Kota Jogjakarta

Add caption

Poster terunik malam ini, isinya bukan promosi

Kami menghargai gerakan sosial yang lain, namun menyayangkan caranya untuk publikasi


Giat ke-260 dimulai ketika hujan sore sudah cukup mereda. Karena hanya berdua, Masmin dan Kopyordinator bergegas menyerbu tiang-tiang listrik, box control, muka rambu lalu lintas, dan sempadan jalan yang kotor oleh sampah iklan dan sampah yang berserakan. Tugas utama Masmin memang di dokumentasi, namun secara moral tetap membantu Kopyordinator melepas tempelan poster yang menebal di tiap-tiap tiang.

Meski terletak di dekat pusat kota, Simpang Wirobrajan relatif kotor oleh tempelan. Tempelan di sini didominasi oleh iklan jasa bekam yang ditempel di tiang-tiang jaringan, kemudian diikuti tempelan poster aksi #GagalkanOmnibusukLaw sejumlah enam poster besar. Masmin teringat bahwa salah satu teknis aturan yang disampaikan dalam aksi tersebut adalah dengan tidak merusak fasilitas umum. Tapi toh boro-boro, tempelan sudah ada sejak 3 hari sebelum aksi dan lebih dulu merusak fasilitas, pra-demonstrasi. Ada juga poster besar yang direkatkan dengan lem kuat oleh salah satu komunitas advokasi dan pecinta binatang yang menganggap bahwa Andong adalah salah satu jasa transportasi yang sebenarnya menyiksa kuda. Terlepas dari kontroversi tersebut, kami tetap membersihkan tempelan ini, apapun kontennya.

Lagi-lagi poster aksi #GagalkanOmnibusukLaw

Kopyordinator menyayangkan penempelan poster yang serampangan, di tembok properti instansi pendidikan, yang sudah didekorasi dengan mural


Selain sampah tempelan, ada juga sampah-sampah yang berserakan. Beberapa minuman gelasan, sampah kotak dan puntung rokok, hingga kantong plastik ada di dalam pot tanaman separator Jln. RE Martadinata. Sebelum berupa separator dengan hiasan pot tanaman saja, dulu ada pohon-pohon perindang adalah pemisah separator tengah jalan ini. Karena ada proyek perbaikan jalur PDAM, pohon-pohon di sisi barat Simpang Wirobrajan pun dibabat habis, alhasil daerah ini kehilangan sistem yang mampu menyerap karbon emisi.

Untuk sampah iklan berupa spanduk, hanya ada tiga di wilayah ini. Semua spanduk berupa round tag (bentang vertikal dengan kolong bambu) yang terikat dengan kawat besi di tiang listrik. Spanduk-spanduk ini menghadap ke arah barat (dari arah Wates) dan dipasang oleh pengiklan berbeda.

QHomeMart adalah penyampah iklan jenis spanduk terbanyak hingga pertengahan Maret ini

Memisahkan spanduk dari rangka bambu
Kopyordinator berhati-hati sebelum melepas spanduk


Di sisi timur laut, terdapat papan resmi untuk pemasangan spanduk. Sayangnya bingkai ini membentang di atas bangunan warga dan banyak sekali tali tambang pengikat spanduk yang ditinggalkan begitu saja. Selain bikin ruwet, semrawutnya kabel jadi bukti pemasang iklan tidak bertanggung-jawab sepenuhnya atas #sampahiklan yang mereka pasang.

Di sisi timur, Kopyordinator fokus membersihkan tiang. Ada tiga tiang jaringan kabel bertegangan tinggi yang dikotori oleh #sampahiklan poster. Bahkan poster-poster yang sudah menahun ini ditimpa oleh tempelan-tempelan baru sehingga membuat sampah iklan menebal. Butuh perjuangan ekstra selain terbatasnya tenaga, rupanya tiang tidak basah oleh hujan petang tadi sehingga sulit bagi untuk melepas sampah iklan.

Hujan tidak membasahi tiang sehingga pembersihan sedikit sukar

Membersihkan pot-pot tanaman separator jalan

Sampah dibuang ke TPS Pasar Serangan di timur lokasi giat


Selesai dengan melepas iklan, kami mengelilingi rute yang sama untuk pembersihan. Dengan sarung tangan berbahan kondom sekali pakai, Kopyordinator memunguti kembali sampah yang kami bersihkan. Sebanyak setengah karung sampah iklan terkumpul, dan tiga spanduk kami amankan. Karung sampah kami buang di TPS Pasar Serangan.

Memang dengan adanya wabah disusul kebijakan giat oleh Masmin dan Kopyordinator membuat kerja berlangsung dua gelombang. Akan tetapi kesehatan awak relawan tetap yang terpenting bukan?