Kopyordinator, Bekti Maulana sedang mengasah kapak kesayangannya begitu Masmin tiba di lokasi giat ke-267. Rabu (13/5) sebelumnya, kami memang sudah menyurvei lokasi ini meski kami berdua diburu-buru waktu. Ya, malam-malam di Jogja sewaktu wabah kian mencekam setelah kriminalitas meningkat hampir di penjuru kota. Ada maling, begal, atau klitih yang masalahnya tidak kunjung hilang. Belum lagi daerah kediaman Masmin menerapkan kebijakan tutup portal pukul 00:00 WIB, sehingga tidak bisa lagi leluasa giat seperti pada saat sebelum wabah.

Plang perbatasan di Jln. Bugisan Selatan sama seperti di Sagan. Desainnya sangat tidak menarik, hanya lightbox murahan biasa dengan fon jenis Sans Serif, mungkin Arial. Di sisi timur jalan, bersebelahan dengan plang perbatasan terdapat papan informasi yang menunjukkan nilai dan pemenang lelang proyek pengadaan tapal batas. Mungkin inilah gapura perbatasan terburuk di Indonesia.

Kopyordinator hampir selalu jadi single fighter untuk pembersihan tiang PJU

Jalan Bugisan Selatan tidak memiliki trotoar sehingga berbahaya bagi pejalan


Lima belas menit mengasah dengan amplas, Mas Kopyor kini sudah siap. Ia membuka tangga lipat itu lalu menyandarkannya pada tiang PJU sasaran. Meski tahun sudah 2020, tiang ini masih menggunakan tipe gas merkuri.

"Tiang gas merkuri sakjane dipasang Pemkot sejak 2006 nek ra salah. Makanya jangan heran kalau tiba-tiba lampu PJU mati sendiri karena terlalu panas. Radiasinya itu lho. Padahal zaman sekarang harusnya tiang PJU pakai LED dan panel surya," terang Bekti sambil mengikat tali-tali spanduk dari pembersihan Sagan agar tangga tidak bergoncang.

Kawan Garuk Sampah membantu menyorot tumpukan tali yang menggantung

Tali-tali yang berjatuhan dikumpulkan di bahu jalan


Jalan Bugisan Selatan adalah akses umum masyarakat Jogja yang ingin menuju dan dari Kasihan atau Madukismo, Bantul. Di jalan ini juga terdapat dua instansi pendidikan yang cukup populer yakni Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan Sekolah Menengah Kejuruan 1 Kasihan (SMKI). Jalan ini terdiri dari dua arah dengan satu lajur. Sayangnya, jalan ini sempit sehingga tidak ada trotoar sebagai jalur pedestrian. Selain itu, kencangnya laju kendaraan para pengendara juga membuat pembersihan kali ini cukup berbahaya.

Selesai dengan tangga, Bekti kini mengikat tali webbing ke tiang, membentuk simpul yang kokoh supaya dapat diduduki sewaktu pembersihan. Ikatan sudah kuat, barulah kapak diayunkan ke gundukan tali spanduk yang sudah menahun bertengger di tubuh tiang PJU.

Pembersihan selesai

Bekti melepas ikatan tali yang meminimalisir goncangan pada tangga lipat


Selama proses pembersihan, kawan Garuk Sampah yang lain membagi tugas. Masmin tentu mendokumentasi jalannya kegiatan. Relawan perempuan berjaga di bawah tiang agar tidak ada kendaraan yang melaju terlalu mepet dengan bahu jalan. Tak lupa, Ia turut merapikan tali-tali yang berjatuhan supaya tidak terlindas dan menyangkut pada roda sepeda motor. Salah satu kawan Garuk Sampah yang sudah akrab dengan Mas Kopyor menyorotkan senter sepeda ke arah tumpukan tali. Bekti pun mendaratkan sisi tajam kapak pada tali yang rapuh. Beberapa ada yang putus, sisanya pecah dan buyar jatuh ke aspal.

Tapal batas seharusnya menjadi salah satu cara untuk menunjukkan jati diri suatu daerah


Pembersihan tidak berlangsung lama karena hanya tiang sisi barat yang dibersihkan. Banyaknya kabel jaringan yang semrawut melintang membuat Mas Kopyor urung membersihkan sisi timur. Apalagi dahan dan ranting pohon besar itu juga saling menyilang sehingga menyulitkan pembersihan, belum lagi kalau semut dan serangga lainnya ikut merayap.

Selesai, kami segera mengemasi barang-barang. Sampah tali temali diikat dengan tali webbing untuk dibawa ke gudang basis Garuk Sampah. Kumpulan tali ini akan kami jadikan sebuah mahakarya untuk dipresentasikan di kawasan pedestrian Malioboro, entah kapan.

Mengemas kembali alat-alat yang dibawa giat

Meski harus bersepeda jauh dari Pleret, Bantul, Kopyordinator tetap usahakan datang giat setiap Rabu malam