Masmin menjajal poster gaya baru

Bagai globalisasi, masyarakat yang menyambangi Jogja untuk pertama kali tentu tidak mengenal batas-batas wilayah Kota Jogja. Jalan lingkar atau ring road kerap dijadikan patokan orang awam sebagai wilayah Kota Jogja. Padahal secara de facto, luas Kota Jogja hanya 3/5 area yang 'dipagari' jalan lebar ini. Alhasil imaji baik-buruknya Jogja juga tercermin dari kondisi daerah penyangga, yakni Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman.

Tapal batas Krapyak kami jadikan lokasi giat pembersihan PJU untuk kesekian kalinya. Pemilihan titik ini dikarenakan banyak spanduk bentang diikat di PJU sebanyak jalan wilayah Krapyak. Meski jalanan ini diagung-agungkan sebagai patok garis imajiner antara Tugu Pal Putih, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Plengkung Gading, dan Panggung Krapyak, banyaknya sampah iklan di sepanjang jalan mencoreng makna historis - kultural kawasan cagar budaya ini.

Tapal batas yang ditandai untuk dibersihkan di Jln. KH. Ali Maksum


***

Setelah sempat terkendala dalam perjalanan, akhirnya Kopyordinator Bekti Maulana tiba di lokasi giat. Di lokasi, sudah ada seorang programmer yang menawarkan kerjasama terkait penanganan persampahan khususnya di lingkup Kota Jogja secara digital. Selain penawarannya salah sasaran, harusnya ke Pemerintah Kota Jogja daripada jejaring komunitas lingkungan setempat, aplikasi ini mungkin akan bersifat komersil sehingga Garuk Sampah yang pendanaannya berbasis gotong royong, menolak secara halus kerjasama ini.

Bekti melayani tamu ketika relawan lain mempersiapkan alat

Tapal batas antar daerah Kota Jogja yang tidak begitu menarik dan menonjol

Kopyordinator dengan segenap alat pelindung diri standar Garuk Sampah

Salah seorang relawan memasang tangga lipat yang Ia bawa


Disaat Bekti berbincang dengan tamu, rekan relawan lain segera mempersiapkan tangga lipat guna memulai giat. Sistem gotong royong mekanik ini terjadi secara alamiah dalam gerakan ini. Meski hanya bertujuh, masing-masing orang bisa membagi peran, mengerjakan apa yang bisa mereka kerjakan untuk membantu pembersihan. Ada yang mendokumentasikan kegiatan (biasanya Masmin yang pegang), mendirikan tangga lipat, atau sekadar membelikan minum dan camilan. Jiwa kerelawan memang muncul ketika terbiasa mengikuti aktivitas kesukarelaan.

Sang tamu sudah beralih, waktunya Bekti beraksi. Dimasukkannya gagang kapak kesayangan ke sela-sela ikat pinggang. Ia guncangkan tangga, apabila tidak banyak goncangan, kakinya siap menapak dengan mantap.

Malam itu, Jln. KH. Ali Maksum ramai pelintas. Di sisi utara, banyak pedagang makanan ringan menjajakan dagangan mereka. Mulai dari cilok hingga tahu bulat, lengkap. Para pembeli pun segera datang. Yang unik, semua sudah mengenakan masker. Ya, tidak mampunya pemerintah memukul martil membuat masyarakat harus beradaptasi, berdamai dengan potensi penyakit.

Selesai mengikat tali webbing pada tiang, Bekti mulai membersihkan PJU kesekian. Kapak yang terantuk pada tiang membuat bunyi nyaring yang menggema hingga ujung perkampungan. Tali yang putus segera dikumpulkan. Spanduk yang terikat pun diamankan.

Sama seperti tapal batas Kota Jogja lainnya, perbatasan di Jln. KH. Ali Maksum terlihat biasa saja. Bahkan apabila pengendara yang notabene bukan warga sekitar melintas, mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah memasuki area administratif yang berbeda. Kondisi ini yang menyebabkan adanya keterkaitan antara Sleman, Jogja, dan Bantul. Ketika ada imaji tercoreng di salah satu wilayah, apalagi terjadi di daerah perbatasan, maka imaji tetangga ikut terpengaruh.

Saat ini, Satpol PP Kota Jogja sudah mulai kembali bergerak memberantas sampah iklan meski belum juga tegas reaktif menindak para pemasang. Padahal, identitas pemasang tentu tercantum jelas dalam konten promosi mereka. Meski begitu, ini adalah harapan baru untuk penyelesaian masalah sampah iklan khususnya di Kota Jogja. Namun tidak cukup disitu, sampah iklan di Sleman masih dominan dan terkesan dibiarkan. Apabila tapal batas antar daerah tidak begitu jelas, maka citra buruk Sleman bisa digeneralisir oleh orang awam terhadap Jogja. Sepertinya ini waktu bagi kami kembali merambah Sleman, seperti pada akhir 2017 lalu...

Relawan saling bahu-membahu membersihkan spanduk

Kopyordinator sudah handal dan tidak takut ketinggian, sehingga kadang Ia sendiri yang naik membersihkan tiang

Melipat spanduk yang diamankan

Alat-alat dimasukkan ke dalam hammock yang rusak dan dijadikan tas

Setiap giat, Kopyordinator dan relawan lain bisa menempuh jarak belasan hingga dua puluhan kilometer, bersepeda


***

Giat di tapal batas berakhir setengah jam kemudian dengan gundukan tali yang dibalut spanduk, "Mungkin beratnya 5 kilogram."