Sore itu cuaca mendung berubah jadi gerimis. Rintik-rintik hujan membasahi Bumi, membasuhi pipi. Polusi kota kian pekat begitu masyarakat kembali menyambut kelaziman baru. Ya, aktivitas perekonomian berangsur pulih, namun degradasi lingkungan di Jogja terus berlanjut, khususnya untuk pencemaran udara. Padahal virus Covid-19 menyerang paru-paru sebagai penyakit pernapasan. Kelaziman baru yang tidak disertai dengan kebijakan radikal bisa meningkatkan risiko masyarakat terpapar virus. Kebijakan radikal seperti pengadaan tol sepeda dengan skema protected line diperlukan supaya melindungi pesepeda dari potensi kecelakaan lalu lintas. Untuk jangka panjang, pengembangan jalur sepeda dan zona teduh diperlukan supaya masyarakat tergugah untuk melanggengkan gaya hidup ramah lingkungan.

Tak lama, Kopyordinator bersama rombongan relawan dari selatan tiba. Meski ada kemungkinan hujan turun, mereka tetap bersepeda. Kalau hujan toh tinggal berteduh saja. Sebanyak sebelas relawan sudah berkumpul, giat dimulai dengan konvoi menuju lokasi melewati Jln. Nologaten. Jalan sempit antar kampung ini selain sudah runyam oleh pola pembangunan yang tidak beraturan, kini ditambah ruwet oleh banyaknya kabel dan tiang jaringan serta spanduk-spanduk yang bertebaran. Termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Sleman, menghasilkan pajak yang cukup tinggi karena banyak sektor usaha silih berganti, namun tidak diperhatikan OPD setempat. Inilah mengapa kesan kumuh dan berantakan melekat pada wilayah ini.

Pembersihan tiang pertama oleh dua relawan

Tiang kedua dan pohon terikat tali tambang


Rombongan tiba di lokasi pembersihan pertama. Tiang PJU pertama giat ke-70 ini terletak sekitar 30 meter di timur titik giat sebelumnya. Bekti berencana membersihkan tiga tiang sekaligus untuk hari ini. Dari 11 relawan yang ikut giat, hanya 6 orang saja yang benar-benar efektif mengerahkan tenaga. Masmin sih cuma jeprat-jepret update, jadi relawan paling santai. 😁

Tangga selesai diikat pada tiang. Sigap Bekti segera mendaki tangga. Pembersihan tiang pertama berlangsung singkat karena tali-tali tambang terikat rapih sehingga mudah untuk diputus dengan kapak. Selesai dengan tiang pertama, relawan kembali melipat tangga dan membawanya ke titik kedua.

Titik kedua terletak tak jauh dari Jln. Perumnas. Pada titik ini, tidak hanya tiang PJU saja yang menjadi korban #sampahiklan, ada pohon perindang yang terikat hebat cabang - batangnya oleh tali tambang. Tali-tali ini bisa mematikan, atau mengganggu pertumbuhan pohon perindang yang berfungsi mengurangi polusi udara ini. Dengan cekatan, dua orang relawan segera memanjat pohon meski cabangnya sulit diraih. Tangga lipat terpasang, Bekti pun membersihkan tiang PJU kedua. Baik pohon maupun tiang PJU sama-sama dihuni oleh semut-semut merah. Gatal karena gigitan semut menjadi risiko tersendiri di sini.

Meski banyak serangga, khususnya semut, dua relawan ini nekat memanjat pohon

Masing-masing relawan mengambil peran untuk berkontribusi

Bergotong-royong membersihkan tiang kedua

Tiang kedua dan pohon perindang pasca dibersihkan

Langit mendung berubah jadi awan gelap di ufuk barat. Jelang maghrib, langit mulai meredup. Aktivitas giat rehat sementara untuk mengembalikan energi dan menghomarti waktu maghrib, sembari mempersilakan relawan untuk menjalankan ibadah solat di musola/masjid terdekat.

Pembersihan tiang ketiga dilakukan di jalan searah dari Seturan menuju Babarsari. Meski tiang PJU ketiga ini sudah tidak berfungsi karena selalu mati, tali yang mengikat tetap dirasa mengganggu. Usai menyantap camilan ringan, Bekti dan kawan Garuk Sampah memanjat tiang ini. Butuh waktu hingga setengah jam untuk menyelesaikan tiang ketiga karena tali tambang terikat sangat tinggi. Bahkan kawan Garuk Sampah mengandalkan ikatan webbing untuk memanjat PJU lebih tinggi.

Jelang maghrib, ada beberapa tiang PJU kami lewatkan dengan alasan keamanan dan menghormati waktu maghrib

Beberapa tiang PJU miring dan rawan roboh

Bekti dan kawan Garuk Sampah membersihkan tiang ketiga

Pembersihan tiang ketiga selesai


Giat selesai. Semua ikatan tali dimasukkan ke dalam karung goni plastik lalu diikat. Tak lupa, Kopyordinator menuliskan pesan di luar kantong tersebut dengan menyebut akun @kabarsleman yang masih memblokir akun media sosial Garuk Sampah karena tidak ingin dikritisi atas masalah yang ada di daerahnya.