Teng, teng...

Bunyi kapak tak henti-hentinya menghantam tiang jaringan. Meski Mas Kopyor sudah dibantu seorang kawan Garuk Sampah, pekerjaan pembersihan tak kunjung usai karena hanya ada 1 kapak di tangan. Sang kawan pun harus sabar memutus satu per satu tali tambang menggunakan tang, yang entah masih cukup tajam untuk memotong tali atau sebaliknya.

Pemotongan tali sisi timur selesai. Relawan lain bergegas memblokade Jln. Timoho untuk melepas spanduk yang masih membentang. Setidaknya sewaktu kami menyambangi tapal batas Kota Jogja dengan Kabupaten Sleman di Sapen, Gondokusuman ini, ada tiga spanduk yang masih rapih terpasang. Dua spanduk dari kelab malam dan satu sisanya dari jasa layanan telekomunikasi jaringan serat optik.

Mempersiapkan pembersihan tiang jaringan listrik sisi timur

Spanduk-spanduk saling berebut ruang iklan gratis yang juga melanggar perda

Pembersihan tiang sisi timur selesai meski harus berhati-hati berdiri di atap rumah warga

"Sik, sik. Ono motor meh lewat. Di-ndheg dhisik, (Sebentar. Ada motor yang mau lewat. Distop dulu!)" aba seorang relawan. Setelah lalu lintas berhenti sebentar, Ia membawa spanduk dari sisi timur ke barat jalan.

Pemotongan tali sisi timur selesai, Bekti dan kawan Garuk Sampah segera turun. Tangga dilipat dan dipindah ke sisi barat, lalu diikat pada tiang jaringan listrik yang sudah berkarat itu. Selesai diikat, Bekti segera menaiki tangga dan mengikatkan tali webbing. Kawan Garuk Sampah yang menemani pembersihan sisi timur ikut naik. Berhubung tiang ini terikat pada jaringan listrik aktif, pembersihan harus ekstra teliti dan hati-hati.

Para relawan melepas rangka bambu dan melipat spanduk
Berpuluh-puluh menit di ketinggian cepat membuat dehidrasi

Mas Kopyor dan kawan Garuk Sampah adalah duo perihal panjat-memanjat

Sampah tali tambang tersangkut pada pohon dekorasi

Membersihkan tiang sisi barat harus ekstra hati-hati karena kesemrawutan kabel jaringan

Pembersihan tiang sisi barat selesai

Serah terima sampah iklan dengan perwakilan Kecamatan Gondokusuman


Tidak lama berselang, ada yang datang. Seorang bapak paruh baya memarkirkan motornya, beliau adalah mentor di Garuk Sampah.

Tiga puluh menit pembersihan tiang sisi barat masih berlangsung. Ikatan demi ikatan tali yang rontok dan menyangkut pada pohon hias dibersihkan. Relawan lain memasukkan tali-tali tersebut pada karung goni. Beberapa lainnya memilih membedah spanduk bentang dengan memisahkan rangka bambunya supaya dapat dilipat ringkas. Spanduk ini selain tidak lagi memiliki nilai jual dan belum ada usaha di Jogja yang bisa mendaur ulang, hanya akan memenuhi gudang Garuk Sampah. Alhasil per awal Juni ini, semua giat di wilayah Kota Jogja akan diakhiri dengan serah terima spanduk ke pihak yang berwenang, yakni BKO Satpol PP Kota Jogja yang telah disebar ke setiap kantor kecamatan.

Karena dilaksanakan tepat di depan toko ritel modern, aksi kami mendapat perhatian dari setiap pengunjung toko. Tak jarang mereka merekam aksi kami sebelum kemudian berlalu. Bekti sempat mengkritisi banyaknya toko modern berjejaring yang bermunculan dalam medio setahun terakhir. Tak tanggung-tanggung, saat ini ada 6 toko modern dari duopoli yang sama. "Padahal jarak dengan Pasar Talok kurang dari satu kilometer. Gusur aja pasarnya! Ganti toko modern," Bekti geram oleh ekspansi pasar modern yang mungkin bertabrakan dengan regulasi daerah Kota Jogja.

Pembersihan tiang sisi barat selesai. Para relawan segera membereskan sampah-sampah yang digaruk dan mengemasi peralatan yang dibawa. Bapak mentor kami pun mentraktir makan di warung burjo tak jauh dari lokasi pembersihan. Sayangnya, beliau lebih dulu meninggalkan kami karena memang malam adalah waktunya beristirahat. Matursuwun pak ~

***

Menemukan sampah iklan, harap laporkan pada pihak berwenang

Tanpa turun dari sepeda, relawan bersepeda tinggi melepas satu per satu roundtag

Melepaskan rangka bambu dari spanduk

Kopyordinator mencatat jumlah spanduk dari pengiklan

Penyerahan 27 spanduk ke perwakilan Kecamatan Danurejan


Kami kembali lagi ke Kantor Kecamatan Gondokusuman. Kali ini ada beberapa orang yang ikut jaga malam. Tak lupa, sebelum serah terima #sampahiklan pada pihak berwenang, Bekti memperkenalkan apa itu Garuk Sampah sekilas. Masmin memotret sesi serah terima, "Tahan posisi sampai bunyi cekrek, ya!" Dokumentasi menjadi penting karena Bekti memiliki kontak Kasatpol PP Kota Jogja sehingga bisa melaporkan apa yang telah kami lakukan pada beliau.

"Saiki nandi? (Sekarang kemana?)" tanya seorang relawan. Delapan belas jam sebelumnya Masmin melaporkan adanya pelanggaran iklan berulang oleh layanan telekomunikasi Smartfren. Puluhan roundtag berwarna merah muda ini dipaku pada pohon perindang sepanjang Jln. Hayam Wuruk dari Pertigaan Stasiun Lempuyangan hingga Perempatan Tegal Panggung. Dengan sigap tanpa turun dari sepeda, para relawan dari komunitas Sepeda Tinggi Yogyakarta mencopoti roundtag-roundtag ini. Usianya masih relatif baru karena promosinya pun masih berlaku.

Total ada 25 spanduk jenis roundtag merek Smartfren digaruk bersama 1 roundtag lain dan 1 spanduk ucapan Ramadhan. Spanduk-spanduk ini diserahkan ke petugas yang sedang jaga malam di Kantor Kecamatan Danurejan. Lalu untuk sampah tali tambang, dikemanakan? Rencana tali-tali ini akan disulap menjadi karya monumental yang dipajang di area strategis wisatawan sebagai bentuk protes terhadap buruknya penataan ruang khususnya di Kota Jogja.